Tuesday, January 06, 2009

Kelima: Lima adalah Kerajinan Indian Inka




Sebelum pulang mampirlah ke Indian Market dan Inca Plaza. Semuanya berdekatan. Di sini dijual sagala macam oleh-oleh khas Peru, terutama kerajinan sulam, anyaman, tenun. Karpet dari bulu hewan Lama atau Alpaca (Onta pendek khas Peru). Lukisan dan kerajinan kulit. Tempat jual souvenir tertata apik, seperti layaknya pasar seni. Harga tidak terlalu mahal, satu buah sal dari bahan woll saya dapatkan dengan harga 20 Soles saja atau setara dengan 60 ribu rupiah. Lukisan harganya berkisar 100 sampai 200 soles. Ibu Ani Yudhoyono dalam lawatannya ke Lima, Peru, mengunjungi kawasan ini untuk melihat berbagai kerajinan yang umumnya didominasi oleh motif dan kerajinan Indian Inca. Kunjungan ke beberapa tempat kerajinan ini memang menjadi studi perbandingan buat Ibu Negara, mengingat Ibu Ani punya program Indonesia Kreatif.

Yang beda dengan kebanyakan kerajinan di Indonesia, adalah soal disain. “Mereka memang lebih maju dan kreatif ya,” kata Mari Pangestu, Menteri Perdagangan RI yang bersama saya meninjau sebuah art geleri mewah di kawasan pantai Miraflores. Galeri yang bernama Dedalo ini seperti menjadi butik bagi perupa di Peru untuk memajang benda-benda seni. Kalau di sini harganya cukup mahal.

Tapi pilihan untuk oleh-oleh pulang memang beragam mulai dari yang enteng seperti di Inca Plaza atau yang mahal kayak di Dedalo. Dan oleh-oleh yang harus Anda bawa pulang adalah ponco, karpet, syal, dan beberapa keramik yang terbuat dari tanah liat.

Jadi setelah melihat lima hal tentang Lima, Anda bisa memutuskan untuk ke sini.

Keempat: Lima adalah "Fine Dining"



Sekarang kita makan. Ada banyak restoran, tapi menu utama mereka adalah umbi-umbian seperti kentang, ubi jalar, singkong dan labu. Ada makanan khas yang saya dapatkan dari seorang polwan yang bisa berbahasa Inggris. ”Senor, jangan lupa mencoba chebiche,” ujarnya. Apa itu? Ini makanan terbuat dari ikan mentah yang ditaburi air lemon, ditambahkan bawang bombay dan irisan cabe dan paprika. Lalu ditambahkan ubi jalar, jagung rebus dan jagung goreng. Rasanya mirip sushi. Di restoran mewah, Cebiche sudah dikombinasi dengan udang, octopus dan cumi, semuanya mentah. Lalu ditaburi mayonaise. Supaya gurih, jagung diganti dengan kentang dan ubi goreng.

Tak ada banyak mall seperti Jakarta. Mereka lebih suka memakai konsep Shopping Arcade. Sehingga konter-konter barang bermerk itu kita bisa dapatkan di ruko-ruko yang mirip butik. Kawasan pusat belanja yang terkenal ada Larcomar, tempat makan dan mall mewah ini ada di tebing pantai di kawasan coast Miraflores. Sehingga resto dan kafe mewah dan beberapa shoping arcade berada di tebing pantai dan menghadap samudra pacific yang indah.

Ketiga: Lima adalah Peninggalan Inka




Selain peninggalan Spanyol, Lima juga memiliki situs purbakala peninggalan bangsa Indian Inka. Situs yang terbesar adalah Pachacamac. Terletak 30 km di selatan kota Lima. Dapat ditempuh dengan kendaraan mobil sekitar 45 menit perjalanan dari Kota Lima. Situs di Pachacamac adalah sebuah bangunan berbentuk piramid yang merupakan tempat suku indian pachacamac bersembahyang. Dibangun pada masa sebelum spanyol tiba (pre hispanic) sekitar abad ke 14 masehi.

Ada banyak bangunan arkeologi tapi yang terbesar adalah grand pyramid yang terletak di bagian paling tinggi di kawasan ini. Di atas piramid inilah kita bisa melihat 3 panorama kota Lima yakni kawasan pantainya yang panjang (costa verde), kawasan gunung batu di El-Pueblo dan pegungungan hijau di kejauhan yang merupakan rangkaian pegunungan Andes.

Situs purbakala yang paling dekat dengan kota Lima adalah Huallamarca. Berlokasi di distrik San Isidro.Hualamarca sendiri berarti tempat perkuburan jenazah bangsa Indian Inca yang dibangun sekitar pada abad ke 7 masehi. Tapi kini Hualamarca atau Huala Pucllana tidak lagi horor dan menyeramkan. Di sini sudah berdiri museum yang menyimpan banyak benda berejarah terutama gerabah. Di beberapa bagian bangunan ini ditempatkan beberapa patung yang merupakan diorama kehidupan bangsa indian pada masa itu seperti membuat gerabah, berternak sapi, bertani dan mencari ikan.Yang menarik di ring satu situs ini dibangun sebuah restoran fine dining. Meja restoran memang diset menghadap candi bangsa indian ini. Orang lebih memilih diner di kawasan ini, untuk makam malam romantis karena redup lampu yang muncul mengitari situs ini.

Kedua: Lima adalah "The Collonial City"

Gedung-gedung peninggalan Spanyol terutama di Centro de Lima terjaga apik. Di sinilah kemegahan kolonial bisa dilihat. Ada Istana Presiden (Palacio de Gobierno) dengan taman dan alun-alun di tengahnya yang mereka sebut sebagai Plaza de Armaz. Di sampingnya ada Catedral de Lima, peninggalan bangsa Spanyol yang megah dan dibangun pada abad ke 16 Masehi. Saya sudah memotret beberapa exterior catedral ini sebelumnya, pada kunjungan saya yang kedua, bertepatan dengan hari Minggu, ternyata gereja ini dibuka. Terpukau saya melihat interior neo klasik bangunan abad ke 16 ini. Saya masuk ke ruangan-ruangan ibadah, terutama di depan patung kayu Virgin of Evangelization karya Rogou Baldoque yang diimpor langsung dari Spanyol.

Lima boleh disebut sebagai kota ketedral, setidaknya ada lima ketedral besar di sini. Sebut saja ketedral San Fransico.Ini adalah ketedral tertua di Lima. Ketederal ini memiliki ruang bawah tanah (catacomb) untuk menyimpan kerangka sekitar 25 ribu orang, mulai dari para santo sampai jemaat gereja dan penduduk kota Lima.

Lukisan para Santo yang menyebar agama Katholik di Lima dan sekitarnya terpajang apik di ruang bawah tanah ini. Saya beruntung bisa masuk ke sini, karena menemani Ibu Marie Pangestu yang berziarah ke 2 ketedral tua di kota Lima. Hanya tamu negara yang diperkenankan masuk dan memotret ruang bawah tanah ini. Peziarah lainnya boleh masuk pada ruang-ruang terbatas di ruang bawah tanah.

Masih di kawasan ini, tepatnya di sebelah kanan istana presiden, ada bangunan antik berrwarna merah. Ini adalah katedral Santo Dominggo ( Iglesia – Convento de Santo
Dominggo). Didirikan tahun 1553 untuk menghormati Santo Dominggo yang ikut mendirikan kota Lima. Di depan istana ada kantor pos besar. Kawasan yang disebut Plaza de Armaz ini cantik dan indah sekali. Saya merasakan aura Eropa dan Mediterania di sini

Pertama: Ruang Publik yang Tertata dan Menawan


Kota Lima berada di pantai tengah negara Peru. Dibangun di atas perbukitan di 300 meter di atas permukaan laut. Kota ini menjadi eksotik karena habitat manusia berada di pegunungan, pantai dan lembah yang berada sekaligus dalam satu kewilayahan Departemento de Lima. Kota Lima didirikan pada tahun 1553 oleh penakluk Fransisco Pizarro dari Spanyol.

Kota Lima didisain seperti blok dan amat rapi. Ini sepertinya melanjutkan apa yang dibuat oleh bangsa Spanyol ketika mendisain Centro de Lima. Kawasan kota tua ini lanscape-nya dibuat dengan model blok dengan banyak ruang publik dan taman-taman terbuka yang mereka sebut sebagai plaza. Ada plaza Saint Martin dan Plaza de Armaz.
Sehingga kawasan San Isidro, San Borja dan Miraflores dikonsep sama tapi dengan bangunan yang lebih kontemporer. Saya memberi nilau plus pada banyaknya taman di setiap sudut kota yang dijadikan ruang publik. Ini yang kita rindukan di Jakarta.
Sebagian penduduk Lima memang tinggal di pinggiran kota, mendiami bukit pasir dan batu yang memang mengitari kota Lima. Mereka sebagian besar adalah dari suku Indian yang bermigrasi ke kota Lima. Rumah mereka kotak-kotak seperti di Timur Tengah. Kumuh dan berdebu, maklum, Lima jarang sekali hujan. Seperti di Jakarta, masyarakat pinggiran pergi ke kawasan El Peublo, Lima, kawasan pinggiran Lima untuk bekerja sebagai buruh. Ada pabrik garam kimia yang didulang dari gurun pasir di sekitar Lima. Garam ini biasanya digunakan untuk campuran pembuat semen